بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Sabtu, 22 Juni 2013

Wejangan Pemuda dari Serat Raja Jawa

Mangkene patrapipun 

Wiwit anem amandenga laku
Ngengurangi pangan turu sawatawis
Amekak hawa nepsu
Dhasarana andhap asor.

Begini maksudnya
Ketika masih muda senanglah lelaku
Kurangilah makan tidur sementara
Menahan hawa nafsu
Gunakanlah dasar rendah hati

II
Akanthi awas emut
Aja tingal weweka ing kalbu
Mituhua wewaruh kang makolehi
Den taberi anggeguru, aja isin tetakon.

Ketika sudah ingat
Janganlah meninggalkan apa yang ada di kalbu
Turutilah pengajaran yang menghasilkan
Seperti orang berguru, janganlah malu untuk bertanya

III
Wong amarsudi kaweruh
Tetirona ing reh kang rahayu
Aja kesed sungkanan sabarang kardi
Sakadare anggenipun
Nimpeni kagunganing wong.

Seseorang yang mencari kawruh (ilmu)
Carilah jalan yang baik
Janganlah malas dan malu dalam segala hal
Sekedarnya dalam
Kepunyaan orang

IV
Tinimbang lan angenganggur
Boya becik ipil-ipil kaweruh
Angger datan ewan panasaten sayekti
Kawignyane wuwuh-wuwuh
Wekasan kasub kinaot.

Daripada menganggur
Carilah kebajikan sedikit-sedikit ilmu
Pokoknya tidak malas yang sebenarnya
Kenyataannya pelan-pelan
Akhirnya terasa berat

V
Lamun wus sarwa putus
Kapinteran sinimpen ing pungkur
Bodhonira katakokna ing ngarsa yekti,
Gampang traping tindak tanduk
Amawas pambekaning wong.

Ketika sudah bisa (putus)
Kepandaian akan disimpan di hari tua
Kebodohanmu akan ditanyakan di depan
Mudah dalam bertingkah-laku
Mengawasi perilaku orang lain.

Semoga bermanfaat!

Alam Suwung dan Rasa Kasmaran

Memasuki alam suwung (kosong) adalah sebuah kenikmatan tersendiri yang akan berlanjut dengan rasa kasmaran untuk pencarian jati diri. Di alam suwung itu tidak ada suara, tidak ada siapa-siapa, tidak ada arah. Yang ada hanyalah keheningan yang mendalam. Boleh dikatakan dari alam suwung itulah kita semua berasal. Dan dari alam suwung itulah, seorang salik memulai sebuah pencarian. Pencarian untuk memahami dirinya sendiri sehingga nantinya akan dapat berjumpa dengan  GUSTI KANG MURBEHING DUMADI.

Untuk bisa memasuki alam suwung tersebut, seorang salik harus mencapai kondisi nol terlebih dulu. Seperti sudah dibahas sebelumnya, kondisi nol merupakan salah satu syarat untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH. Mustahil seorang salik bisa mencapai alam suwung tanpa melewati kondisi nol.

Dalam kondisi nol, maka seseorang sudah dalam keadaan konsentrasi penuh. Dari situlah ia berangkat  mendaki untuk mencari siapa sebenarnya jati dirinya. Sebelum memahami jati dirinya, seseorang akan terlebih dulu memasuki sebuah alam yang disebut alam suwung.

Untuk menuju ke kondisi nol dan melanjutkan perjalanan ke alam suwung, banyak sekali godaan yang dihadapi. Godaan tersebut bermacam-macam seperti bau yang tidak tahu dari mana sumbernya, suara yang tidak tahu dari mana asalnya dan siapa yang ngomong. Hal itu sesuai dengan wejangan yang diberikan oleh KGPAA Mangkunegoro IV Raja Mataram Islam yang berbunyi:

Rasa nala kang sira sedya,
Semang-semang tan gawa padhang,
Piwulang tama ginulang,
Sinung nupiksi werdi kang nyata,
Tan bakal sisip susup ing surup.

Rupa-rupa rerupan kang kasat nètra,
Ana ganda tan tinanpa ing grana,
Ana swara tan tinampa ing karna,
Kekeranè alam suwung asepi,
Pirang-pirang wadi kang tan kawedènan,
Karana kasengker ing Widhi.

Wikanana kang anyata,
Anulada kang utama,
Makarti tami nugraha katampi,
Piwulang aji tinemu mesthi.


Jika semua godaan itu bisa teratasi, maka seseorang sudah bisa dikatakan dalam kondisi nol. Nah, dalam kondisi nol tersebut seorang salik akan merasakan kenikmatan dan ketentraman tersendiri. Rasa kasmaran akan timbul dalam benaknya dan ia harus mendaki lagi memasuki alam suwung sehingga bisa memahami jati diri dan hanya bisa pasrah serta mengharapkan anugerah dan tuntunan GUSTI ALLAH semata.

Semoga bermanfaat bagi Sahabat Pembaca 

Salam Kenal dariku (Ahmad Subiyanto-Tuban)

Filosofi "Mencari Tapake Kuntul Mabur"


AJARAN Kejawen itu sarat dengan beraneka filosofi (kata-kata kiasan/sanepan). Salah satu kata-kata kiasan yang sering didengar adalah "Golekana tapake kuntul mabur" (carilah telapak kaki bangau yang terbang). Cobalah Anda melihat bangau yang sedang terbang. Apakah Anda bisa melihat telapak kakinya? Meskipun Anda berkeliling kemanapun, tidak akan pernah melihat telapak kaki bangau jika si bangau sedang terbang. Orang Jawa sendiri menyebut kata-kata seperti itu adalah sanepan.

Meski terlihat remeh, namun kata-kata tersebut cenderung memiliki arti yang dalam. Kata-kata sanepan tersebut termasuk ke dalam Ilmu kasampurnan. Untuk mencari makna kata-kata tersebut harus dicari dengan cara tirakat dan lelaku. Agar bisa menggayuh sanepan "Golekana tapake kuntul mabur" tadi, sangatlah perlu mengosongkan keinginan dan pikirannya.

Pelajaran yang dapat diambil dari filosofi bangau yaitu, bangau adalah jenis burung yang kemampuannya hanya bisa terbang. Kalau kita lihat bangau itu bisa terbang tanpa ada yang menyangganya. Lalu siapa yang menyangganya?

Kalau manusia bisa mengosongkan diri dari semua yang berkaitan dengan kehidupan, jangankan harta, derajat dan pangkat, bahkan pegangan kehidupun pun harus dilepaskan jika manusia itu ingin mengetahui diri pribadi dengan sendirinya, meskipun tidak ada yang memberi petunjuk. Hal itu ibarat burung bangau yang bisa terbang tanpa ada yang menyangga.

Jika manusia mencarinya, maka manusia tadi bisa berkata,"aku bisa merasakan ada yang memberitahu diriku meskipun tidak ada yang memberitahu karena aku sudah mengosongkan diri dari semua keinginanku, aku juga bisa merasakan bahwa aku ini tidak mempunyai apa-apa. Dan aku tidak mengetahui apa-apa. Aku ini bukanlah apa-apa, tetapi aku ini ada".

Telapak kaki burung bangau itu sebenarnya ada kalau ia mendarat. Tetapi kalau sedang terbang, pasti kita setengah mati untuk mencarinya. Itu merupakan sebuah simbol bahwa GUSTI ALLAH itu ada, tetapi kita tidak bisa melihatnya. 

Oleh karena itu, kalau kita sudah sampai pada rasa seperti itu, maka kita sudah memasuki kawruh tentang GUSTI ALLAH. Kita akan tahu ternyata GUSTI ALLAH yang memberitahu, membuat kita memiliki apa-apa, bahkan GUSTI ALLAH yang membuat kita menjadi tahu apa-apa. GUSTI ALLAH juga menjadikan kita menjadi ada, dari tidak ada dan akan menuju ke ketiadaan.

Filosofi "Golekana Tapake Kuntul Mabur" tadi sebenarnya adalah rasa pasrah pada GUSTI ALLAH. Rasa kepasrahan pada GUSTI ALLAH itu adalah dengan cara manembah pada GUSTI ALLAH tan kendhat rino kelawan wengi" dan memberi pertolongan kepada sesama makhluk hidup, saling berbagi serta saling mengasihi sesama.(*)

Rungokno Suarane Atimu

Banyak orang bijak yang mengatakan "Dengarkanlah suara hati". Pada hakekatnya, suara hati yang dimaksud adalah hati nurani yang ada pada setiap manusia. Perkataan orang bijak tersebut memang benar. Dengan lebih banyak mendengarkan suara hati, maka manusia akan lebih tertuntun dan tertata iman dan perilakunya dibandingkan dengan orang yang tidak mau mendengarkan suara hatinya. Dengan lebih banyak mendengarkan suara hati, maka manusia akan bisa lebih mendekat pada GUSTI ALLAH, karena nantinya manusia akan dituntunNYA untuk lebih dekat kepadaNYA untuk lebih bisa mendapatkan kasampurnaning urip (hidup yang sempurna).

Hal itu pernah diajarkan Mangkunegoro IV (Panembahan Senopati Raja Mataram Islam) lewat serat karangannya sebagai berikut:

Aywa sembrana ing kalbu
wawasen wuwusireki
Ing kono Yekti karasa
Dudu ucape pribadi
Marma den sambadeng sedya
Wewesen Praptaning uwis

Janganlah mengabaikan suara hati,
dan berusahalah selalu mawas diri.
Maka Kelak akan merasa adanya suara
Yang terucap bukan dari diri pribadi
Oleh karena itu, turutilah niat tersebut,
Sampai akhir tujuannya. 


Marma den taberi kulup
angulah lantiping ati
Rina wengi den anedya
Pandak-panduking pambudi
Mbengkas kaardaning driya
Supadya dadya utami.

Oleh karena itu, tekunlah nak!
Dalam mengolah ketajaman hati
Dengan memohon siang malam
Untuk dapat menemukan kebenaran dan berusaha selalu berbuat baik
Dengan menyingkirkan gejolak hawa nafsu
Agar menjadi orang yang berbudi luhur


Pertanyaannya, bagaimana mengasah hati agar lebih tajam dan jelas dalam menyuarakan kebenaran sehingga kita semua mampu mendengarnya? Caranya yaitu
Pengasahe sepi samun
aywa esah ing salami
samangsa wis kawistara
lalandhepe mingis-mingis
pasah wukir reksamuka
kekes srabedaning budi

Dalam mengasah ketajaman hati
seyogyanya ditempat yang sunyi
Harus menjauhkan dari pikiran pamrih
Apabila sudah tajam dan dapat mengikis gunung (ibaratnya)
Maka harus mampu memerangi hawa nafsunya.
(*)

Pupuh Mijil

1 Wulang estri kang wus pala krami/ 
lamun pinitados/
 
amengkoni mring bale wismane/
 
among putra maru sentanabdi/
 
den angati-ati/
 
ing sadurungipun//.
 

Ajaran untuk wanita yang sudah menikah
kalau dipercaya
mengatur rumah tangganya
mengasuh anak, madu dan abdi
berhati-hatilah
sebelumnya

2 Tinampanan waspadakna dhingin/
 
solah bawaning wong/
 
ingkang bakal winengku dheweke/
 
miwah watak pambekane sami/
 
sinukna ing batin/
 
sarta dipunwanuh//.
 

Terimalah dan waspadailah lebih dulu
tingkah lakunya seseorang
yang akan diperistrinya
termasuk watak kebiasaanya
perhatikanlah dalam batin
serta kenalilah

3 Lan takokna padatan ingkang wis/
 
caraning lelakon/
 
miwah apa saru sesikune/
 
sesirikan kang tan den remeni/
 
rungokena dhingin/
 
dadi tan pakewuh//.
 

Dan tanyakan kebiasaannya yang sudah-sudah
cara kehidupannya
termasuk hal-hal yang tidak disukainya
semua pantangan dan yang tidak disukainya
dengarkanlah dahulu
agar tidak menimbulkan kesulitan

4 Tumpraping reh pamanduming wanci/
tatane ing kono/
 
umatura dhingin mring priyane/
 
yen pinujuno ing asepi/
 
ywa kongsi baribin/
 
saru yen rinungu//
 

Bagi pengaturan waktu
yang berlaku di situ
bicarakan dulu dengan suami
di kala waktu senggang
jangan sampai terjadi kesalahfahaman
memalukan kalau terdengar

5 Mbokmanawa lingsem temah runtik/
dadi tan pantuk don/
 
dene lamun ingulap netyane/
 
datan rengu lilih ing penggalih/
 
banjurna derangling/
 
lawan tembung alus//
 

Mungkin malu sehingga hatinya marah
sehingga tidak mencapai tujuan
adapun jika ditolak hatinya
tidak marah dan berkenan hatinya
teruskan pembicaraanmu
dengan perkataan yang halus

6 Anyuwuna wulang wewalere/
 
nggonira lelados/
 
lawan endi kang den wenangake/
 
marang sira wajibing pawestri/
 
anggonen salami/
 
dimen aja padu//.
 

Mintalah petunjuk aturannya
didalam engkau melayani
serta mana yang diperbolehkan
kepada engkau yang menjalankan kewajiban sebagai istri
pergunakan hal ini selamanya
agar tidak terjadi pertengkaran.

7 Awit wruha kukune jeng Nabi/
 
kalamun wong wadon/
 
ora wenang andhaku darbeke/
 
priya lamun durung den lilani/
 
mangkono wong laki/
 
tan wenang andhaku//.
 

Karena ketahuilah hukum Nabi
kalau seorang wanita
tidak berwenang mengakui miliknya
pria kalau belum diizinkan
demikianlah orang bersuami
tidak berwenang mengakui barang itu sebagai miliknya

8 Mring gawane wong wadon kang asli/
tan kena denemor/
 
lamun durung ana palilahe/
 
yen sajroning salaki sarabi/
 
wimbuh raja ta di/
 
iku jenengipun//
 

Terhadap harta bawaan orang wanita yang asli
tidak boleh dicampur
sebelum ada izin
bila dalam perkawinan
kekayaan bertambah
itu namanya

9 Gana gini pada andarbeni/
 
lanang lawan wadon/
 
wit sangkane saka sakarone/
 
nging wewenang isih aneng laki/
 
marma ywa gagampu/
 
raja ta di mau//
 

Gana-gini dimiliki bersama sama
laki-laki (suami) serta istri
karena harta itu datangnya dari mereka berdua
tetapi yang berhak masih suami
oleh karena itu jangan engkau meremehkan
yang dinamakan kekayaan tadi

10 Gana gini ekral kang njageni/
 
saduman wong wadon/
 
kang rong duman wong lanang kang darbe/
lamun duwe anak jalu estri/
 
bapa kang wenehi/
 
sandhang panganpun//.
 

Harta yang diperoleh sejak menikah merupakan harta yang
harus dijaga sungguh-sungguh
yang sebagian untuk istri
yang dua bagian suami yang memiliki
apabila mereka memiliki anak laki-laki atau perempuan
bapak yang memberi
sandang pangan mereka

11 Pamo pegat mati tuwin urip/
 
nggonira jejodhon/
 
iku ora sun tutur kukume/
 
wewenange ana ing sarimbit/
 
ing mengke mbaleni/
 
tuturingsun mau//.

Apabila cerai baik mati atau hidup
dalam berumah tangga
itu tidak kuberitahukan peraturannya
wewenangan ada di mereka berdua
sekarang kembali lagi pada
nasihatku tadi

12 Yen wus sira winulang wineling/
 
wewalere condhong/
 
lan priyanta ing bab pamengkune/
 
bale wisma putra maru abdi/
 
lawan raja ta di/
 
miwah kayanipun//.
 

Setelah engkau diajari nasihat
setuju dengan peraturan
suamimu dalam hal mengemudikan
rumah tangga, anak, madu, abdi
dan kekayaan
dengan penghasilannya

13 Iku lagi tampanana nuli/
 
ingkang nastitiyo/
 
tinulisan apa saanane/
 
tadhah putra selir santanabdi/
 
miwah raja ta di/
 
kagunganing kakung//.
 

Baru terimalah dengan seksama
dengan teliti
tuliskan apa adanya
juga anak, selir, dan para abdi
dengan kekayaan
kepunyaannya lelaki

14 Yen wus tlesih nggonira nampani/
 
sarta wis waspaos/
 
aturena layang pratelane/
 
mring priyanta paran ingkang kapti/
ngentenana malih/
 
mring pangatagipun//
 

Setelah dengan jelas kau menerimanya
serta sudah waspada
haturkanlah surat perinciannya
kepada suamimu tentang pekerjaan itu
tunggulah kembali
kepada perintahnya

15 Kang supaya aja den arani/
 
wong wadon sumanggon/
 
bokmenawa gela ing batine /
 
becik apa ginrayang muni/
 
mring kayaning laki/
 
kang yogya satuhu//
 

Agar supaya jangan dituduh
wanita yang sombong
mungkin kecewa dalam batinnya
lebih baik rabalah hatinya
pada penghasilan lelaki
yang patut senyatanya

16 Ing sanadyan lakinira becik/
 
momong mring wong wadon/
 
wejanana kang mringna liyane/
 
jer manungsa datan nunggil kapti/
 
ana ala becik/
 
ing panemunipun//
 

Walaupun lelakimu baik
dapat ngemong wanita
ketahuilah sifat-sifat yang lain
karena sebagai manusia tidak akan selalu sama keinginannya
ada jelek baiknya
dalam pendapatnya

17 Lamun kinen banjur ambawani/
 
ywa age rumengkuh/
 
lulusena lir mau-maune/
 
aja nyuda, aja amuwuhi/
 
tampanana batin/
 
ngajarna awakun//
 

Kalau kemudian disuruh mengurusi
janganlah cepat-cepat menyanggupi
luluskanlah seperti sedia kala
jangan mengurangi, jangan menambahi
terimalah dalam batin
belajarlah dengan tulus

18 Endi ingkang pinitayan nguni/
 
amengku ing kono/
 
lestarekna ywa lirip atine/
 
slondhohona, lilipuren asih/
 
mrih trimaningati/
 
kena sira tuntun//.
 

Mana yang dipercaya dulu
yang menyamai di situ
lestarikan agar tidak kecewa hatinya
ajaklah bicara, hiburkanlah dengan penuh kasih sayang
supaya hatinya dapat menerima
dapat engkau bimbing

19 Yen wus cukup acukup pikiring/
 
wong sajroning kono/
 
lawan uwis metu piandele/
 
marang sira ora walang ati/
 
iku sira lagi/
 
ngetrap pranatanmu//.
 

Kalau sudah cukup setuju dan cakap pemikirannya
orang di dalamnya sana
dan sudah percaya
kepadamu tanpa ragu-ragu
itu engkau baru
menerapkan peraturanmu

20 Wewatone nyongga sandhang bukti/
nganakken kaprabon/
 
jalu estri supangkat pangkate/
 
iku saking pametu sesasi/
 
utawa sawarsi/
 
para gunggungipun//.
 

Kuncinya mengatur kebutuhan sehari-hari
menyelenggarakan rumah tangga
suami istri sepakat mengatur pengeluaran
itu dari penghasilan sebulan
atau setahun
berapa pun jumlahnya.


Pupuh Kinanthi

1 Dene wulang kang dumunung/ 
pasuwitan jalu estri/
 
lamun sregep watekira/
 
tan karya gela kang nuding/
 
pethel iku datan dadya/
 
jalarane duk sayekti//
 

Adapun ajaran yang berkenaan
pengabdian suami istri
jika rajin wataknya
tidak membuat kecewa yang menyuruh
suka bekerja itu lakukanlah
sebab yang sesungguhnya

2 Tegen iku watekipun/
 
akarya lega kang nuding/
 
wekel marganing pitaya/
 
dene ta pangati-ati/
 
angedohken kaluputan/
 
iku margane lestari//.
 

Tekun bekerja itu wataknya
membuat senang bagi yang menyuruh
bersungguh-sungguh bekerja
menyebabkan dipercaya
adapun kehati-hatian
menjauhkan dari kesalahan
itu sebabnya lestari

3 Lawan malih wulangipun/
 
marganing wong kanggep nglaki/
 
dudu guna japa mantra/
 
pelut dhuyung sarandhesthi/
 
dumunung neng patrapira/
 
kadi kang winahya iki//
 

Dan ajarannya lagi
yang membuat orang dihargai sebagai laki-laki
bukan guna-guna japa mantra
pemikat halus sebagai sarana
untuk mencapai tujuan
ada dalam tingkah lakumu
seperti yang dinyatakan berikut ini

4 Wong wadon kalamun manut/
 
yekti rinemenan nglaki/
 
miturut marganing welas/
 
mituhu marganing asih/
 
mantep marganireng tresna/
 
yen temen den andel nglaki//
 

Kalau perempuan itu menurut
sungguh-sungguh akan disenangi suami
menurut menyebabkan sayang
menetapi perintah menimbulkan kasih
sungguh-sungguh mewujudkan cinta
kalau jujur dipercaya lelakinya.

5 Dudu pangkat dudu turun/
 
dudu brana lawan warni/
 
ugere wong pada krama/
 
wruhanta dhuh anak mami/
 
mring nurut nyondhongi karsa/
 
rumeksa kalayan wadi//.
 

Bukan pangkat bukan keturunan
bukan kekayaan dan rupa
syarat orang dalam perkawinan
ketahuilah wahai anakku
menurut dan mendukung kehendak (suami)
menjaga dengan rahasia

6 Basa nurut karepipun/
 
apa sapakoning laki/
 
ingkang wajib lineksanan/
 
tan suwala lan baribin/
 
lejaring netya saranta/
 
tur rampung tan pindho kardi//
 

Menurut artinya
apa pun yang diperintah lelaki
wajib dilaksanakan
tidak suka membantah dan mengulur-ulur waktu
senang menyelesaikan pekerjaan secepatnya
dan pekerjaan selesai tanpa pengulangan dua kali

7 Dene condhong tegesipun/
 
ngrujuki karsaning laki/
 
saniskara solah bawa/
 
tanya tur nyampah maoni/
 
apa kang lagi rinenan/
 
openana kang gumati//
 

Sedangkan yang dimaksud setuju
menyetujui apa pun yang dikehendaki suami
segala tingkah laku
bertanyalah tanpa mencela
apa yang sedang menjadi kegemarannya
rawatlah sebaik-baiknya

8 Wong rumekso dunungipun/
 
sabarang darbeking laki/
 
miwah sariraning priya/
 
kang wajib sira kawruhi/
 
wujud warna cacahira/
 
endi bubuhaning estri//.
 

Orang menjaga artinya
segala kepunyaan suami
dan sekaligus badannya
yang wajib engkau ketahui
bentuk, warna, dan jumlahnya
mana yang dimiliki istri


9 Wruha sangkan paranipun/
 
pangrumate den nastiti/
 
apa dene guna kaya/
 
tumanjane den patitis/
 
karana bangsaning arta/
 
iku jiwa dereng lair//
 

Ketahuilah asal-usulnya
rawatlah dengan teliti
juga dengan harta kekayaannya
pergunakanlah dengan tepat
karena yang namanya harta
itu ibarat sukma belum nyata

10 Basa wadi wantahipun/
 
solah bawa kang piningit/
 
yen kalair dadya ala/
 
saru tuwin anglingsemi/
 
marma sira den abisa/
 
nyimpen wadi ywa kawijil//.

bahasa rahasia artinya
tingkah laku yang tersembunyi
kalau diketahui orang menjadi jelek
tidak senonoh dan memalukan
maka hendaklah engkau dapat
menyimpan rahasia jangan sampai diketahui orang lain

Pupuh Dhangdhanggula

1 Mrih sarkara pamardining siwi/ 
winursita denira manitra/
 
nujwari Selasa Wage/ 
 
triwelas sasi Mulud/
 
kasanga Dal sengkaleng warsi/
 
wineling anengaha/
 
sariranta iku/
 
mring iki wasitaning wang/ 
 
marang sira putrengsun jaler lan estri/
muga padha ngestokna//
 

Supaya manis cara mendidik anak
diceriterakan bagaimana cara menulis
bertepatan hari Selasa Wage
 
13 bulan Maulud
ke -9 dengan sengkalan tahun
pesan ini ditujukan
kepadamu terhadap nasihatku ini
kepada putraku laki-laki dan perempuan
harap semuanya memperhatikan

2 Rehne sira wus dewasa sami/
sumurupa lakoning agesang/
 
suntuturi kamulane/
 
manungsa estri jalu papantaran denya dumadi/
 
neng donya nut agama/
 
jalu estri dhaup mongka kanthining agesang lawan kinen marsudi dawakken wiji/
ginawan budidaya//.
 

Karena kalian sudah sama –sama dewasa
ketahuilah jalan kehidupan
saya beritahu asal mulanya
manusia perempuan dan laki-laki
tidak banyak selisih usianya ketika dilahirkan
di dunia menurut agama
laki-laki perempuan kawin sebagai teman hidup
diperintahkan berusaha untuk memperpanjang benih
dibekali segala akal budi.

3 Yeka mongka srananing dumadi/
 
tumandhuke marang saniskara/
 
manungsa apa kajate/
 
sinembadan sakayun/
 
yen dumunung mring wolung warni/
ingaran asthagina/
 
iku tegesipun/
 
wolung pedah tumrapira/
 
marang janma margane mrih sandhang bukti/
kang dhingin winicara//
 

Sebagai sarana hidup
berlakunya pada segala sesuatu
sesuai dengan maksud manusia
semua kehendak tercapai
jika berpedoman pada delapan ajaran
yang dinamakan asthagina
itu artinya
delapan manfaat bagimu
yang ditujukan bagi manusia untuk mencari penghidupan
yang lebih dulu dibicarakan.

4 Panggaotan gelaring pambudi/
 
warna-warna sakaconggahira/
 
nuting jaman kalakone/
 
rigen ping kalihipun/
 
dadi pamrih marang pakolih/
 
katri gemi garapnya/
 
margane mrih cukup/
 
papat nastiti papriksa/
 
iku dadi margane weruhing pasthi/
 
lima wruh etung ika//.
 

Pekerjaan sebagai upaya akal budi
macam-macam sesuai kemampuanmu
sesuai dengan masa terjadinya
yang kedua tertib
menjadi sarana untuk memperoleh sesuatu
yang ketiga, berhematlah
jalannya agar kecukupan
yang keempat, teliti dalam melihat sesuatu
Itu menjadi jalan untuk mengetahui kepastian
yang kelima, mengetahui perhitungan.

5 Watek adoh mring butuh sahari/
 
kaping nenem taberi tatanya/
 
ngundhakken marang kawruhe/
 
ping pitu nyegah kayun/
 
pepenginan kang tanpa kardi/
 
tan boros marang arta/
 
sugih watekipun/
 
ping wolu nemen ing sedya/
 
watekira sarwa glis ingkang kinapti/
yen bisa kang mangkana//.
 

Tabiat jauh dari kebutuhan keseharian
keenam, rajin dalam bertanya
meningkatkan pengetahuan
ketujuh, mengendalikan kehendak
keinginan yang tidak berguna
tidak boros dalam keuangan
kaya wataknya
kedelapan, mempunyai kemauan yang keras
mempunyai watak serba cepat dalam mengerjakan sesuatu
kalau dapat demikian.

6 Angadohken durtaning kang ati/
 
anyedhakken rahayuning badan/
 
den andel mring sesamane/
 
lan malih wekasingsun/
 
aja tuman utang lan silih/
 
anyudakken derajat camah wekasipun/
 
kasoran prabawanira/
 
mring kang potang lawan kang sira silih/
nyatane angrerepa//.
 

Menjauhkan rasa iri
mendekatkan pada keselamatan badan
dapat dipercaya sesama
dan lagi pesanku
jangan membiasakan berhutang dan meminjam
mengurangi harga diri mendapat malu akhirnya
kalah kewibawaanmu
terhadap yang menghutangi dan yang meminjamimu
kenyataannya minta dikasihani

7 Luwih lara laraning kang ati/
ora kaya wong tininggal arta/
 
kang wus ilang piyandele/
 
lipure mung yen turu/
 
lamun tangi sungkawa malih/
 
yaiku ukumira/
 
wong nglirwakken tuduh/
 
ingkang aran budidaya/
 
temah papa asor denira dumadi/
 
tan amor lan sasama//.
 

Lebih sakit sakitnya hati
tidak seperti orang yang ditinggalkan uang
yang sudah hilang rasa percaya dirinya
terlibur hanya ketika tidur
ketika bangun bersusah lagi
itulah hukumannya
orang yang tidak menuruti nasihat
yang disebut budi dan akal
sehingga hina rendah dalam kehidupannya
tidak bergaul dengan sesama.

8 Kaduwunge saya angranuhi/
 
sanalika kadi suduk jiwa/
 
enget mring kaluputane/
 
yen kena putraningsun/
 
aja kadi kang wus winudi/
 
dupeh wus darbe sira/
 
panci pancen cukup/
 
becik linawan gaota/
 
ingkang supaya kayuman ning dumadi/
madu lamis sangsaya//.
 

Penyesalan yang semakin menjadi-jadi
seketika seperti hendak bunuh diri
ingat akan kesalahannya
kalau dapat putraku
janganlah terjadi seperti yang di atas
mentang-mentang engkau telah memiliki segalanya
persediaan yang cukup
lebih baik bekerja
supaya hidupnya terlindungi
terhindar dari kesengsaraan.

9 Rambah malih wasitaning siwi/
 
kawikana patraping agesang/
 
kang kanggo ing salawase/
 
manising netya luruh/
 
angedohken mring salah tampi/
 
wong kang trapsileng tata/
 
tan agawe rengu/
 
wicara lus kang mardawa/
 
iku datan kasendhu marangsasami/
wong kang rumaket ika//
 

Ada lagi nasihat anakku
ketahuilah akan tingkah laku hidup
yang untuk digunakan selama lamanya
manisnya hati yang halus
menjauhlah dari kesalahfahaman
orang yang berperilaku sopan
tidak akan membuat marah
bicaralah halus yang menyenangkan
itu tidak akan ditegur oleh sesama
orang yang akrab itu

10 Karya resep mring rewange linggih/
wong kang manut mring caraning bangsa/
watekjembar pasabane/
 
wong andhap asor iku/
 
yekti oleh panganggep becik/
 
wong meneng iku nyata/
 
neng jaban pakewuh/
 
wong aprasaja solahira/
 
iku ora gawe ewa kang ningali/
 
wong nganggo tepanira//.
 

Membuat senang teman duduk
orang yang menuruti aturan bangsanya
pergaulannya luas
orang yang merendahkan diri itu
selalu memperoleh anggapan baik
orang pendiam itu nyata
berada di luar kesulitan
orang yang bertingkah laku bersahaja
itu tidak membuat iri hati kepada orang yang melihat
orang yang memakai tenggang rasa

11 Angedohken mring dosa sayekti/
 
wong kang enget iku watekira/
 
adoh marang bilahine/
 
mangkana sulangipun/
 
wong kang amrih arjaning dhiri/
 
yeku pangolahira/
 
batin lahiripun/
 
ing lahir grebaning basa/
 
yeka aran kalakuwan ingkang becik/
margane mring utama//.
 

Menjauhkan dari dosa sejati
orang yang selalu ingat itu wataknya
jauh dari bahaya
demikianlah persoalannya
orang yang ingin mempunyai keselamatan diri
itulah cara mengolahnya
batin dan lahir
dalam lahirnya tercermin tingkah lakunya
yang disebut tingkah laku yang baik
jalannya menuju kepada keutamaan.

12 Pepuntone nggonira dumadi/
 
ngugemana mring catur upaya/
 
mrih tan bingung pamundhine/
 
kang dhingin wekasingsun/
 
anirua marang kang becik/
 
kapindho anuruta/
 
mring kang bener iku/
 
katri ngguguwa kang nyata/
 
kaping pate miliha ingkang pakolih/
dadi kanthi neng ndonya//
 

Kesimpulan dari pada kalian di dunia
taatilah empat upaya
agar tidak bingung memilihnya
yang pertama nasihatku
menirulah kepada yang baik
kedua, menurutlah
kepada yang benar
ketiga, percayalah pada hal yang nyata
keempat, pilihlah yang bermanfaat
jadi pegangan di dunia

Tembang Pangkur

P A N G K U R

01
Mingkar-mingkuring ukara, akarana karenan mardi siwi, sinawung resmining kidung, sinuba sinukarta, mrih kretarta pakartining ilmu luhung,kang tumrap ing tanah Jawa, agama ageming aji.

(Meredam nafsu angkara dalam diri, Hendak berkenan mendidik putra-putri, Tersirat dalam indahnya tembang, dihias penuh variasi, agar menjiwai hakekat ilmu luhur, yang ada di tanah Jawa (nusantara), agama hanyalah “pakaian” kehidupan.)

02
Jinejer ing Weddhatama, mrih tan kemba kembenganing pambudi,mangka nadyan tuwa pikun, yen tan mikani rasa, yekti sepi sepa lir sepah asamun,samasane pakumpulan, gonyak-ganyuk nglelingsemi.

(Disajikan dalam serat Wedhatama,agar jangan miskin pengetahuan walaupun sudah tua pikun jika tidak memahami rasa sejati (batin) niscaya kosong tiada berguna bagai ampas, percuma sia-sia,di dalam setiap pergaulan sering bertindak ceroboh memalukan.)

03
Nggugu karsane priyangga, nora nganggo peparah lamun angling,lumuh ingaran balilu, uger guru aleman, nanging janma ingkang wus waspadeng semu, sinamun samudana, sesadoning adu manis .

(Mengikuti kemauan sendiri, Bila berkata tanpa dipertimbangkan (asal bunyi), Namun tak mau dianggap bodoh,Selalu berharap dipuji-puji. (sebaliknya) Ciri orang yang sudah memahami (ilmu sejati) tak bisa ditebak berwatak rendah hati,selalu berprasangka baik.)

04
Si pengung nora nglegewa, sangsayarda denira cacariwis, ngandhar-andhar angendukur, kandhane nora kaprah, saya elok alangka longkangipun, si wasis waskitha ngalah, ngalingi marang sipingging.

(Si dungu tidak menyadari,Bualannya semakin menjadi-jadi,ngelantur bicara yang tidak-tidak,Bicaranya tidak masuk akal,makin aneh tak ada jedanya. Lain halnya, Si Pandai cermat dan mengalah, Menutupi aib si bodoh.)

05
Mangkono ilmu kang nyata, sanyatane mung we reseping ati,bungah ingaran cubluk, sukeng tyas yen den ina, nora kaya si punggung anggung gumunggung, ugungan sadina dina, aja mangkono wong urip.

(Demikianlah ilmu yang nyata, kenyataannya memberikan ketentraman hati, Tidak sedih dibilang bodoh, Tetap gembira jika dihina. Tidak seperti si dungu yang selalu sombong, Ingin dipuji setiap hari. Janganlah begitu caranya orang hidup.)

06
Uripa sapisan rusak, nora mulur nalare ting saluwir, kadi ta guwa kang sirung,  sinerang ing maruta, gumarenggeng anggereng anggung gumrunggung, pindha padhane si mudha, prandene paksa kumaki.

(Hidup sekali saja berantakan, Tidak berkembang, pola pikirnya carut marut. Umpama goa gelap menyeramkan, Dihembus angin, Suaranya gemuruh menggeram, berdengung Seperti halnya watak anak muda yang masih pula berlagak congkak)

07
Kikisane mung sapala, palayune ngendelken yayah wibi, bangkit tur bangsaning luhur, lah iya ingkang rama, balik sira sarawungan bae durung, mring atining tata krama, nggon-anggon agama suci.

(Tujuan hidupnya begitu rendah, Maunya mengandalkan orang tuanya,Yang terpandang serta bangsawan. Itu kan ayahmu! Sedangkan kamu saja belum kenal, akan hakikatnya tata krama dalam ajaran yang suci)

08
Socaning jiwangganira, jer katara lamun pocapan pasthi, lumuh asor kudu unggul, sumengah sesongaran,yen mangkono kena ingaran katungkul, karem ing reh kaprawiran, nora enak iku kaki.

(Cerminan dari dalam jiwa raga mu, Nampak jelas walau tutur kata halus, Sifat pantang kalah maunya menang sendiri Sombong besar mulut Bila demikian itu, disebut orang yang terlena Puas diri berlagak tinggi. Tidak baik itu nak!)

09
Kekerane ngelmu karang, kakarangan saking bangsaning gaib, iku boreh paminipun, tan rumasuk ing jasad, amung aneng sajabaning daging kulup, Yen kapengkok pancabaya,ubayane mbalenjani.

(Di dalam ilmu yang dikarang-karang (sihir/rekayasa). Rekayasa dari hal-hal gaib Itu umpama bedak. Tidak meresap ke dalam jasad, Hanya ada di kulitnya saja nak Bila terbentur marabahaya, bisanya menghindari.)

10
Marma ing sabisa-bisa, babasane muriha tyas basuki, puruitaa kang patut, lan traping angganira, Ana uga angger ugering kaprabun, abon aboning panembah, kang kambah ing siang ratri.

(Karena itu sebisanya,Upayakan selalu berhati baik. Bergurulah secara tepat Yang sesuai dengan dirimu, Ada juga peraturan dan pedoman bernegara, Menjadi syarat bagi yang berbakti,yang berlaku siang malam.)

11
Iku kaki takokena, marang para sarjana kang martapi, mring tapaking tepa tulus, kawawa nahen hawa, Wruhanira mungguh sanjataning ngelmu, tan mesthi neng janma wreda, tuwin muda sudra kaki.

(Itulah nak, tanyakan Kepada para sarjana yang menimba ilmu jejak hidup para suri tauladan yang benar, dapat menahan hawa Nafsu Pengetahuanmu adalah senjatanya ilmu, Yang tidak harus dikuasai orang tua, Bisa juga bagi yang muda atau miskin, nak!)

12
Sapantuk wahyuning Allah, gya dumilah mangulah ngelmu bangkit, bangkit mikat reh mangukut, kukutaning Jiwangga, Yen mangkono kena sinebut wong sepuh, liring sepuh sepi hawa, awas roroning ngatunggil.

(Siapapun yang menerima wahyu Tuhan, Dengan cermat mencerna ilmu tinggi, Mampu menguasai ilmu kasampurnan, Kesempurnaan jiwa raga, Bila demikian pantas disebut “orang tua”. Arti “orang tua” adalah tidak dikuasai hawa nafsu. Paham akan dwi tunggal (menyatunya sukma dengan Tuhan)

13
Tan samar pamoring Sukma, sinukma ya winahya ing ngasepi, sinimpen telenging kalbu, Pambukaning waana, tarlen saking liyep layaping ngaluyup, pindha pesating supena, sumusuping rasa jati.

(Tidaklah samar menyatunya sukma, meresap terpatri dalam keheningan semadi, Diendapkan dalam lubuk hati menjadi pembuka tabir, berawal dari keadaan antara sadar dan tiada, Seperti terlepasnya mimpi Merasuknya rasa yang sejati.)

14
Sajatine kang mangkono, wus kakenan nugrahaning Hyang Widi, bali alaming ngasuwung, tan karem karamean, ingkang sipat wisesa winisesa wus, mulih mula mulanira, mulane wong anom sami.

(Sebenarnya ke-ada-an itu merupakan anugrah Tuhan, Kembali ke alam yang kosong, tidak mengumbar nafsu duniawi, yang bersifat kuasa menguasai. Kembali keasal muasalmu, wahai anak muda)

Semoga bermanfaat bagi para pembaca yang aku cinta


081515733149 Subiyantosantrimbelink-Tuban